SERIAL DIALOG IMAJINER : Just Transition di Tengah Banjir “Dosa Ekologis”, wawancara Bung Hatta dengan Aktivis Buruh Milenial

 

 



Lokasi:  Sebuah kedai kopi sederhana, suasana senja di kaki bukit Sumatera Barat, Desembar 2025. Aroma kopi lokal menguar, bercampur dengan sesekali desau angin yang membawa kelembaban. Di depan kami, sisa-sisa banjir bandang masih terlihat di kejauhan, menyisakan luka yang dalam di lanskap dan hati warga.

 

Tokoh:

 

Bima: Aktivis serikat buruh milenial, energetik, penuh idealisme, akrab dengan isu lingkungan dan keadilan sosial.

Bung Hatta: Proklamator, negarawan ulung, dengan pemikiran ekonomi kerakyatan yang mendalam. (Tentu saja, ini dialog imajiner, jadi Bung Hatta hadir dalam kesadaran kolektif kita, mewakili pemikirannya.)

==========================

Bima: (Menghela napas, menatap genangan air di halaman kedai) Duh, Bung. Sungguh pemandangan yang bikin hati miris ya. November 2025, Sumatera lagi-lagi digulung banjir bandang. Ini bukan cuma soal cuaca buruk biasa, ini krisis ekologis yang makin nyata. Dan di balik ini semua, ada kawan-kawan buruh yang mata pencahariannya ikut hanyut, Bung. Pabrik-pabrik pada jebol, lahan pertanian yang jadi sumber hidup tergerus.

 

Bung Hatta: (Menyesap kopinya perlahan, pandangan matanya tajam namun teduh) Betul, anak muda. Bencana ekologis seperti ini adalah cerminan dari ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan alam, dan seringkali, ketidakseimbangan dalam pembangunan kita. Kamu bicara soal buruh, ini sangat penting. Perjuangan buruh bukan hanya soal upah dan hak kerja, tetapi juga soal kelangsungan hidup mereka dalam menghadapi perubahan besar.

 

Bima: Nah, itu dia, Bung. Kami di serikat buruh sekarang lagi getol bicara soal just transition. Gimana transisi ke ekonomi yang lebih ramah lingkungan ini nggak malah jadi bumerang buat kaum buruh. Jangan sampai gara-gara kita mau beralih ke energi bersih, ribuan buruh tambang atau buruh pabrik yang masih pakai teknologi lama malah di PHK massal tanpa kepastian. Mereka ini tulang punggung keluarga, Bung.

 

Bung Hatta: Konsep just transition. Menarik. Ini mengingatkan saya pada prinsip yang selalu saya perjuangkan: kemandirian ekonomi Indonesia. Kemandirian itu bukan hanya bebas dari campur tangan asing secara politik dan ekonomi, tapi juga soal bagaimana seluruh rakyat Indonesia, termasuk para buruh, dapat hidup layak dan berpartisipasi penuh dalam mengelola sumber daya negara demi kesejahteraan bersama.

 

Bima: Just transition itu intinya gimana, Bung? Kalau dari sisi kami, ini soal memastikan bahwa kebijakan transisi energi hijau itu juga inklusif. Ada program reskilling dan upskilling buat buruh yang terdampak, ada jaminan sosial yang kuat, dan yang paling penting, mereka dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Biar nggak ada lagi keputusan tebang pilih yang merugikan mereka.

 

Bung Hatta: Pemikiranmu sangat sejalan. Kemandirian ekonomi yang saya bayangkan adalah ekonomi yang didasarkan pada kekuatan sendiri, bukan bergantung pada eksploitasi sumber daya alam secara membabi buta atau disetir oleh kepentingan asing. Ekonomi yang berbasis pada hasil bumi sendiri, diolah oleh tangan-tangan anak bangsa, dan hasilnya dinikmati oleh seluruh rakyat. Dalam konteks ini, just transition adalah bagaimana kita mentransformasi ekonomi kita agar lebih berkelanjutan tanpa mengorbankan hak dasar dan kesejahteraan rakyat pekerja.

 

Bima: Jadi, kalau kita mau beralih ke energi terbarukan, misalnya, nggak bisa asal tutup tambang batubara kan, Bung? Harus ada rencana matang. Kayak membangun industri baru yang menyerap tenaga kerja, atau memberikan pelatihan khusus buat buruh tambang jadi teknisi panel surya, misalnya. Ini kan butuh political will yang kuat dari pemerintah.

 

Bung Hatta: Tepat sekali. Kemandirian ekonomi bukan berarti isolasi, tapi kedaulatan dalam menentukan arah pembangunan. Saat kita bicara tentang energi bersih, itu berarti kita harus membangun industri energi terbarukan itu sendiri. Dari pabrik panel surya, turbin angin, hingga infrastruktur pendukungnya. Ini bukan hanya menciptakan energi yang lebih bersih, tapi juga menciptakan lapangan kerja baru yang berkualitas, yang bisa menyerap para pekerja dari sektor yang terdampak transisi. Ini adalah filosofi ekonomi kerakyatan dalam versi modern.

======

BACA JUGA KUMPULAN BERITA KORAN PERDJUANGAN TENTANG BENCANA SUMATERA DISINI

======

Bari: Wah, keren banget, Bung. Jadi, perjuangan kami soal just transition ini sebenarnya adalah kelanjutan dari cita-cita kemandirian ekonomi yang Bung Hatta perjuangkan dulu ya? Ini bukan cuma soal lingkungan, tapi juga soal keadilan sosial dan kedaulatan ekonomi bangsa.

 

Bung Hatta: Benar. Perubahan iklim yang memicu bencana ekologis seperti banjir bandang ini adalah masalah global, namun solusinya harus tetap lokal dan berakar pada keadilan. Jika kita tidak membangun kemandirian dalam sektor energi, kita akan terus bergantung pada teknologi impor atau bahkan sumber bahan bakar fosil yang semakin langka dan mahal, yang pada akhirnya merusak lingkungan. Dan dalam proses transisi, kita harus memastikan bahwa setiap langkahnya itu adil. Para pekerja yang telah berkontribusi pada pembangunan selama ini, tidak boleh ditinggalkan begitu saja.

 

Bima: Dan kalau kita bicara kemandirian, Bung, itu juga soal nggak gampang menyerah sama tekanan investasi asing yang nggak peduli sama lingkungan. Banyak perusahaan besar yang datang cuma mau ambil hasil alam kita, bikin polusi, tapi pas ada masalah ekologis, mereka lepas tangan. Buruh yang kena dampaknya.

 

Bung Hatta: (Mengangguk tegas) Di sinilah letak krusialnya. Fondasi kemandirian ekonomi adalah keberpihakan pada kepentingan rakyat dan keberlanjutan sumber daya alam. Kita harus mampu mengelola kekayaan alam kita sendiri untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk memperkaya segelintir orang atau pihak asing. Kebijakan yang mendukung just transition haruslah kebijakan yang memperkuat kedaulatan kita, yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua warga negara untuk berpartisipasi dalam ekonomi yang lebih bersih dan adil.

 

Bima: Jadi, intinya, Bung, kita nggak bisa cuma nyalahin alam atau ngarep bantuan doang. Kita harus bangun sendiri, berdikari, tapi dengan cara yang adil buat semua rakyatnya. Termasuk kawan-kawan buruh, yang jadi garda terdepan saat ada bencana ekologis dan yang juga harus jadi bagian dari solusi transisi ini.

 

Bung Hatta: Benar, Bima. Perjuanganmu adalah perjuangan menjaga harga diri bangsa dan kemanusiaan. Pastikan setiap langkah menuju ekonomi yang lebih hijau juga merupakan langkah menuju masyarakat yang lebih adil dan berdaulat. Ingat, ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang tidak merusak rumah kita sendiri, dan yang memberikan kehidupan yang layak bagi setiap warganya. Bencana ekologis ini adalah alarm, saatnya kita kembali pada akar pemikiran pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

 

Bima: (Mengangguk penuh tekad) Siap, Bung! Kami akan teruskan perjuangan ini, dengan semangat kemandirian dan keadilan ala Bung Hatta. Terima kasih banyak, Bung!

 

Posting Komentar

0 Komentar