Oleh: Ilyas Husein- Seorang
Pekerja Muda yang Muak dengan Bencana Berulang
2 Desember 2025
Hei kawan-kawan!
Minggu-minggu ini, hati kita hancur. Asia Selatan sedang
dilanda kesedihan massal. Kita bicara tentang lebih dari 900 nyawa melayang
dan jutaan orang terdampak akibat siklon langka dan banjir ekstrem.
Sebagai pekerja muda, saya bertanya: Sampai kapan kita akan
menerima kehancuran ini sebagai "takdir"?
Kita tidak bisa lagi pura-pura buta. Bencana yang menghantam
Indonesia, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, dan Malaysia bukanlah sekadar hujan
deras biasa. Ini adalah pukulan telak dari krisis iklim yang kita sendiri
ciptakan, didorong oleh kerakusan bahan bakar fosil!
Siklon di Garis Khatulistiwa: Alarm Darurat yang Memekakkan
Bayangkan ini: Siklon Senyar muncul di utara khatulistiwa
(tepatnya di 3,8° LU) dan memicu banjir mematikan di Sumatra dan Semenanjung
Malaysia. Siklon Senyar ini bahkan berbenturan dengan Siklon Koto, menyebabkan
banjir bandang yang parah. Bersamaan, Siklon Ditwah menghancurkan Sri Lanka,
yang disebut Presidennya sebagai "bencana alam paling menantang"
dalam sejarah negara itu.
Secara ilmiah, siklon jarang terbentuk di dekat
khatulistiwa karena Gaya Coriolis (putaran bumi) terlalu lemah di sana. Jadi,
ketika badai-badai raksasa ini muncul di wilayah yang tidak siap, seperti
Indonesia dan Malaysia yang jarang berhadapan dengan siklon besar,
kehancurannya menjadi luar biasa.
Ini bukan kebetulan, Kawan!
Atau buka link ini untuk melihat data lengkap disini
Para ilmuwan menjelaskan korelasi ini: Siklon mendapatkan
energi dari laut hangat. Semakin banyak emisi dari bahan bakar fosil yang
memanaskan lautan dan atmosfer, semakin banyak "bahan bakar" yang
tersedia untuk badai, membuat siklon tropis semakin intens. Atmosfer yang panas
juga memperkuat siklus air, menghasilkan puncak curah hujan yang lebih tinggi
dan meningkatkan risiko banjir bandang dalam waktu singkat.
Meskipun sumber menyebutkan perubahan iklim mungkin mengurangi
jumlah siklon secara keseluruhan, badai yang terbentuk justru cenderung akan
lebih kuat. Kita bukan menghadapi lebih banyak badai, kita menghadapi badai
yang lebih mematikan!
Kita sudah diperingatkan: dunia kehabisan waktu untuk
mengatasi dampak terburuk krisis iklim. Ini adalah isu hak buruh, hak
komunitas, dan hak untuk hidup!
Desakan Kita: Just Transition Sekarang!
Kita harus menuntut pemerintah dan korporasi untuk bergerak
cepat. Transisi energi harus dilakukan segera. Namun, transisi ini tidak boleh
mengorbankan pekerja! Kita perlu Transisi yang Adil (Just Transition)
yang menjamin:
1. Penciptaan Pekerjaan Hijau yang Layak: Menggantikan
industri fosil dengan sektor energi terbarukan dan ramah lingkungan, dengan
perlindungan serikat yang kuat.
2. Ketahanan Komunitas: Investasi besar-besaran untuk
infrastruktur yang tahan terhadap banjir bandang, tanah longsor, dan badai yang
intens—terutama di negara-negara yang rentan.
3. Hentikan Perusakan Lingkungan: Di Indonesia, banjir
bandang parah dan tanah longsor yang merenggut nyawa adalah bukti kerentanan
ekstrim di Sumatra. Meskipun sumber tidak menyediakan data deforestasi spesifik
10 tahun, kita tahu bahwa perusakan lahan memperparah setiap tetes air yang
jatuh! Kita menuntut penghentian total pembukaan lahan demi keuntungan jangka
pendek.
Ini adalah perjuangan kita untuk bertahan hidup. Kita tidak
akan membiarkan kita menjadi korban dari kehancuran iklim dan juga
korban dari transisi ekonomi yang tidak terencana!
--------------------------------------------------------------------------------
STATISTIK VULNERABILITAS KITA
Berikut adalah gambaran visual tentang krisis yang kita
hadapi, berdasarkan dampak buruk yang dialami Asia Selatan:
|
Fakta Iklim: Siklon Langka dan Kehancuran (Data Sumber) |
Status Kritis |
|
Kematian dan Kerusakan |
Lebih dari 900 orang tewas, jutaan terdampak. |
|
Pemicu Energi Badai |
Laut yang semakin hangat (akibat emisi fosil) memberikan "bahan
bakar" untuk badai. |
|
Fenomena Langka |
Siklon Senyar muncul di 3,8° LU, sangat dekat dengan
khatulistiwa, memicu banjir mematikan di Sumatra dan Malaysia. |
|
Intensitas Hujan |
Atmosfer yang panas meningkatkan puncak curah hujan, memicu
risiko banjir bandang tinggi. |
|
Kondisi Negara Korban |
Kerusakan parah karena badai melanda negara yang jarang
berhadapan dengan siklon besar (termasuk Indonesia dan Malaysia). |
(Catatan : STATISTIK INI Menyoroti data bencana yang
disajikan. Penting untuk diingat bahwa korelasi kerentanan wilayah dengan
penggunaan lahan, seperti deforestasi yang menyebabkan tanah longsor, meskipun
tidak terkuantifikasi dalam sumber, adalah komponen krusial dari perjuangan kita
dalam advokasi Just Transition.)



0 Komentar