Bagi Anda yang baru terjun ke dalam dunia aktivisme serikat pekerja, mungkin isu-isu seperti upah dan kondisi kerja sudah familiar. Namun, serikat pekerja global juga menangani masalah besar yang memengaruhi kehidupan semua orang: Transisi Energi.
Audio Book 1Public Services International (PSI), yang merupakan Federasi
Serikat Global dengan lebih dari 700 serikat pekerja yang mewakili 30 juta
pekerja di 154 negara, mengadakan
pertemuan jaringan penting di Hotel Aryaduta Jakarta untuk membahas masalah
ini. Tema pertemuan tersebut adalah “Mendorong Transisi Energi yang Adil dan
Inklusif: Jalur Publik menuju Keadilan dan Keberlanjutan”.
Diskusi ini di Moderatori oleh Kahar S. Cahyono, dengan Panel I, di isi oleh Bima Yudistira dari Celios yang membongkar Konsep pembiayaan Transisi berkeadilan yang sebetulnya hutang atau debt trap bagi negara seperti indonesia, sementara Nabila dari MKE membongkar tipu daya mengenai Isu Transisi Berkeadilan di kebijakan-kebijakan kesepakatan perdagangan global (Free Trade) yang seringkali memaksa negara berdaulat untuk "dijajah" secara ekonomi, Dan San Sweeney, menyoroti mengapa pembiayaan publik merupakan pilihan yang lebih baik untuk Transisi Energi Indonesia.
Mengapa Energi Bukan Hanya Urusan Perusahaan?
Serikat pekerja harus terlibat dalam isu energi karena
sistem saat ini penuh dengan ketidakadilan.
- Dominasi
Oligopoli: Kekuasaan dalam sektor energi saat ini dipegang oleh
perusahaan-perusahaan energi raksasa (oligopoli) yang meraup keuntungan
spektakuler tetapi tidak memiliki akuntabilitas demokratis yang berarti.
- Risiko
Privatisasi: Ada pendekatan yang ceroboh—yang disebut sebagai
"privatisasi untuk dekarbonisasi"—yang berisiko menyerahkan
kendali masa depan energi Indonesia kepada modal asing dan agenda
neoliberal. Jika transisi energi hanya didorong oleh sektor swasta, kebutuhan
kelompok rentan dapat terabaikan, yang berpotensi menimbulkan ketimpangan
sosial dan ekonomi.
- Kebutuhan
Pendanaan: Indonesia membutuhkan pendanaan eksternal untuk membiayai
transisi energi, namun untuk mendapatkannya, pihak-pihak terkait mengklaim
perlunya reformasi neoliberal—sebuah pendekatan yang mengkhawatirkan.
Solusi Serikat Pekerja: Jalur Publik (Public Pathways)
Untuk memutus siklus destruktif ini, serikat pekerja di
Indonesia mengusulkan agenda “jalur publik” (public pathways). Jalur
publik adalah solusi yang menempatkan kepemilikan publik sebagai inti
dari sistem energi. Dengan cara ini, dimungkinkan adanya kontrol demokratis dan
partisipasi rakyat dalam menentukan masa depan energi.
PSI menyelenggarakan pertemuan jaringan ini untuk membahas
masalah fundamental tersebut dan mempromosikan agenda jalur publik sebagai
solusi untuk transisi energi yang berkeadilan.
![]() |
| Indah Budiarti - PSI |
Tujuan Aktivisme Bersama
Aktivisme serikat pekerja dalam transisi energi memiliki
tujuan nyata yang secara langsung memengaruhi pekerja dan masyarakat:
- Penguatan
Kerja Sama: Memperkuat kerja sama serikat pekerja untuk kampanye dan
advokasi pendekatan jalur publik dalam transisi energi yang berkeadilan.
- Akses
yang Adil: Mengembangkan pendekatan yang bermakna agar sumber transisi
energi dapat diakses secara adil dan memberikan manfaat bagi semua anggota
masyarakat, khususnya bagi pekerja dan kelompok rentan.
- Perlindungan
Sosial: Memastikan adanya langkah-langkah perlindungan sosial
untuk mencegah terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi selama proses
transisi.
- Meningkatkan
Daya Tawar: Meningkatkan daya tawar serikat untuk tingkat kampanye dan
advokasi berikutnya dalam perubahan kebijakan terkait jalur publik.
![]() |
| Kahar S. Cahyono (KSPI)-kiri-Moderator, Bima Yudistira Celios, Nabila (MKE) |
1. Masalah
dan Kritik Utama
- Krisis
Keadilan dan Ketimpangan: Sistem energi saat ini dinilai melanggengkan
ketidaksetaraan yang mendalam, terutama melalui dinamika neokolonial
yang menguntungkan negara dan perusahaan kaya (Global North) sambil
mengeksploitasi manusia dan sumber daya di negara-negara selatan global (Global
South), termasuk Indonesia.
- Sentralisasi
Kekuasaan: Kekuasaan energi terpusat pada oligopoli perusahaan
energi raksasa yang tidak memiliki akuntabilitas demokratis, yang
berujung pada perusakan lingkungan dan pelanggaran HAM.
- Risiko
Transisi Swasta ("Privatisasi untuk Dekarbonisasi"):
Transisi energi yang didorong oleh sektor swasta/modal asing (seperti yang
disyaratkan oleh pendanaan eksternal dan investasi swasta dalam kerangka
JETP) berisiko menimbulkan ketimpangan sosial-ekonomi yang parah
dan mengabaikan kebutuhan masyarakat rentan. Ini disebut sebagai reformasi
neoliberal.
- Ancaman
bagi Pekerja: Tanpa perencanaan yang adil (Just Transition),
pekerja di sektor yang terdampak, khususnya buruh pertambangan batubara,
berisiko kehilangan mata pencaharian dan menghadapi ketidakpastian.
![]() |
| Tuti Suwartini (Bidang Luar Negeri), Rita Hendratiningsih (Bidang Pendidikan& Litbang) |
2. Solusi yang Diusulkan: "Jalur
Publik"
PSI dan serikat pekerja Indonesia menolak pilihan "business
as usual" (mengabaikan komitmen iklim) dan pendekatan neoliberal
(menyerahkan kendali ke modal asing). Mereka mengusulkan "Jalur
Publik" sebagai jalan tengah yang radikal:
- Kepemilikan
Publik: Menempatkan kepemilikan publik sebagai inti dari sistem
energi.
- Kontrol
dan Partisipasi Demokratis: Kepemilikan publik memungkinkan adanya kontrol
demokratis dan partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan
energi.
- Tujuan
Jalur Publik:
- Perlindungan
Sosial: Menjamin langkah-langkah perlindungan sosial yang memadai
untuk mencegah ketimpangan sosial-ekonomi.
- Akses
Adil: Memastikan sumber transisi energi diakses secara adil dan
memberi manfaat bagi seluruh masyarakat, terutama pekerja dan kelompok
rentan.
- Layanan
Publik Berkualitas: Memastikan transisi energi yang adil menghasilkan
layanan publik yang berkualitas (ditekankan oleh SP PLN).
3. Peserta dan
Advokasi Utama
Pertemuan ini melibatkan jaringan serikat pekerja di
Indonesia untuk memperkuat kerja sama dalam kampanye dan advokasi pendekatan
jalur publik.
![]() |
| Panelis 2- Sulistiono KEP SPSI Advokasi Pekerja Sektor Energi, Irma Rahmawati--SP PLN, Transisi yang adil Jalur Publik, Tuti Suwartini-FSP FARKES REFORMASI-Transisi yang adil Untuk semua |
- Sulistiono (FSP KEP-SPSI): Mengadvokasi perlindungan buruh di sektor pertambangan yang menghadapi transisi meninggalkan batubara.
- Tuti Suwartini (FSP FARKES Reformasi): Menekankan pentingnya transisi yang adil bagi semua, dengan menempatkan hak asasi manusia sebagai inti dari transisi energi.
- Irma
Rahmawati (SP PLN): Menegaskan bahwa jalur publik adalah kunci untuk
mewujudkan layanan publik berkualitas selama transisi energi yang
adil.
Secara keseluruhan, pertemuan ini merupakan seruan untuk
perubahan struktural radikal dalam sistem energi Indonesia, bergerak dari model
yang digerakkan oleh korporasi dan swasta asing menuju model yang berbasis
publik, demokratis, dan berorientasi pada keadilan sosial.









0 Komentar