Bom Waktu di Balik Kilau Nikel: Ketika 'Transisi Energi' Cuma Jadi Skema Eksploitasi buruh Murah Global

 


Analogi Kesadaran:

Bayangkan Transisi Energi sebagai sebuah mobil listrik baru yang mengkilap. Negara kita (Indonesia) adalah pemilik mobil itu, dan buruh adalah baterai yang menggerakkan segalanya. Saat ini, skema hilirisasi global membuat pabrik baterai dikelola oleh pihak asing, di mana mereka hanya membayar baterai dengan harga paling murah, sementara mereka menikmati perjalanan mewah dan cepat. Ditambah lagi, ada kontrak aneh (ISDS) yang mengatakan jika pemilik mobil mencoba mengatur harga baterai, pabrik asing berhak menggugatnya. Transisi Berkeadilan adalah saat kita memastikan, pemilik mobil punya hak penuh atas pabrik baterainya, dan pekerja baterai mendapatkan bagian yang adil dari kecepatan perjalanan itu.




Hai, Sobat Pekerja dan Pecinta Keadilan!

Anda tahu, kadang kita mendengar jargon-jargon besar yang terdengar sangat menjanjikan—seperti "Hilirisasi Industri," atau "Transisi Energi Hijau Berkeadilan"—dan rasanya seperti masa depan cerah sudah di depan mata. Namun, begitu kita mulai mengupas lapisan gula-gula itu, ternyata ada bom waktu yang siap meledak tepat di kantong dan kesejahteraan para buruh di Indonesia.

Inilah yang menjadi renungan kolektif pada sebuah momen krusial, "Temu Buruh: Transisi Energi Berkeadilan dalam Perdagangan Global," yang diprakarsai oleh Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi (MKE), Public Services International (PSI), dan Transnational Institute (TNI) di Jakarta pada 18 November 2025.




Hilirisasi: Janji Manis yang Dikelola Investor

Mari kita bongkar motif utamanya. Pemerintahan kita, bahkan Pemerintahan Prabowo, menyuarakan hilirisasi sebagai jalan keluar dari ketergantungan kita mengekspor bahan mentah. Indah sekali, kan? Seharusnya ini menyejahterakan rakyat.

Tapi tunggu dulu.

Logika yang berjalan di lapangan, terutama di sektor hilirisasi seperti industri smelter, justru dikontrol oleh investasi besar. Ini bukan tentang membangun kedaulatan, melainkan mereplikasi pola ketimpangan lama.

Motifnya jelas: Investor mengendalikan, dan buruh? Kita hanya ditempatkan sebagai faktor produksi yang biayanya bisa ditekan. Lapangan kerja yang katanya banyak itu seringkali didasarkan pada logika upah murah, fleksibilitas tenaga kerja yang ekstrem, dan perlindungan yang minim. Jadi, hilirisasi yang kita lihat saat ini—dengan segala kilau nikel dan energi hijaunya—sebenarnya adalah skema yang sangat rapi untuk menempatkan buruh sebagai tumbal upah murah demi keuntungan investasi.





Ancaman Global yang Menggerogoti Kedaulatan

Masalahnya tidak berhenti di situ. Saat kita mencoba menata rumah tangga sendiri, tiba-tiba ada tangan raksasa dari luar yang mengulurkan borgol. Ini datang dalam bentuk perjanjian perdagangan global, seperti yang kita tandatangani dengan Uni Eropa (Indonesia-Uni Eropa CEPA).

Perjanjian-perjanjian ini, secara halus namun tegas, membatasi kemampuan negara untuk mengembangkan kebijakan industri demi kepentingan rakyatnya sendiri.

Dan inilah bagian paling menakutkan, ISDS (Investor-State Dispute Settlement). Mekanisme ini disebut sebagai "perlindungan investor," tapi secara praktik, ini adalah pistol yang diacungkan korporasi asing ke kepala negara kita. Jika kebijakan nasional kita dianggap merugikan bisnis mereka—misalnya, kita ingin menaikkan standar upah atau perlindungan lingkungan—mereka bisa menggugat negara di forum arbitrase internasional. Ini adalah penggerusan kedaulatan yang nyata!

Meskipun ada embel-embel perlindungan buruh dalam perjanjian ini, sifatnya hanyalah sukarela dan tidak mengikat secara hukum. Ah, dasar kebijakan, manis di bibir, pahit di kenyataan.





Mendefinisikan Ulang Keadilan: Bukan Sekadar Angka Pertumbuhan

Melihat situasi ini, puluhan perwakilan serikat buruh besar—termasuk FSP KEP KSPI, FSP FARKES Reformasi, KASBI, PP-IP, dan SPPLN, serta CSO seperti FIAN Indonesia dan Indonesia for Global Justice—berkumpul. Tujuannya? Kita harus mendefinisikan ulang apa itu 'Transisi Berkeadilan'.

Keadilan sejati bukan sekadar meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pertanyaan fundamentalnya adalah: Siapa yang diuntungkan? Siapa yang dikorbankan? Dan bagaimana kekuatan global maupun domestik membentuk arah pembangunan ini?

Para panelis dalam diskusi pertama yang hadir, seperti Rachmi Hertanti (TNI-Transnational Institute) dengan Materi; Konteks Liberalisasi Perdagangan Global dalam Transisi Energi dan Bung Kahar Cahyono (KSPI) dengan materi ; Bagaimana Transisi berkeadlian dalam Konteks Buruh, bersama Ed Miller (CICTAR) dengan materi; bagaimana membiayai transisi energi, dan perwakilan dari berbagai institusi lain, mendorong gerakan buruh untuk melihat gambaran yang lebih besar: menghubungkan perdagangan bebas dengan perjuangan Just Transition di tingkat basis. Mereka membahas segalanya mulai dari liberalisasi perdagangan, pembiayaan transisi energi, hingga dampak privatisasi listrik dan digitalisasi. Acara di buka dengan pemantik diskusi yang menggugah dari Indah Budiarti (PSI) dan Tuti Suwartini (Kabid Luar Negeri FSP FARKES REFORMASI) sebagai moderator selama acara berlangsung.

sementara dalam Panelis ke 2, ada Bung Andy Wijaya-PPIP Transisi Energi yang adil  dalam selubung Privatisasi Energi, Siti Eni-KASBI dalam materi Transformasi Ekonomi Berkeadilan, Bung Olisias Gultom-Sahita Institute dalam materi Digitalisasi

Kita tidak bisa membiarkan transisi energi menjadi proyek yang hanya menguntungkan elit global sambil mengorbankan kesejahteraan buruh dan kedaulatan ekonomi bangsa. Sintesis dari diskusi yang dinamis ini diharapkan menjadi peta jalan yang terpadu bagi gerakan buruh.

Intinya, jika negara adalah kapal, dan transisi energi adalah layarnya, kita harus memastikan bahwa nakhoda (pemerintah) tidak dipaksa oleh bajak laut global (korporasi asing melalui ISDS) untuk hanya memberi makan kru (buruh) dengan remah-remah. Kita harus bersama-sama merebut kemudi.


Tim Media FSP FARKES REFORMASI


Baca Visual Indepth Isu Just Transition Dalam POV FSP FARKES REFORMASI 


Posting Komentar

0 Komentar